Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

Catatan Pengantar Tidur (Memperjuangkan kesenian atau….?)


Ketika suatu saat teman-teman memiliki kesempatan berkunjung kesalah satu kota di pulau jawa , taruhlah itu Yogyakarta, maka kita akan menemukan begitu besar jarak dan ruang perbedaaan perkembangan kesenian disana dengan di kota ini (Maros), mungkin muncul pertanyaan “ kenapa itu bisa tejadi?” pertanyaan inilah yang coba penulis jawab dalam tulisan kali ini.
Mudah-mudahan kita sepakat bahwa semua orang memiliki jiwa seni, namun tidak semua orang mampu mengembangkannya, artinya tidaklah semua orang mampu menyalurkan bakat yang ia miliki dalam dirinya untuk mengembangkannya.
Seni merupakan milik semua kalangan, baik dari kalangan paling bawah, tengah maupun kalangan atas. Seni milik masyarakat bukan cuma milik beberapa kelompok atau komunitas, menurut seniman sekaligus penyair WS. Rendra seni merupakan pendidikan bagi masyarakat, jadi seharusnyalah kita mengembalikan seni itu ke pada masyarakat luas.
Penulis kembali kepertanyaan diawal tulisan ini.
Ditahun 2005 ketika saya berkesempatan mengikuti sebuah Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) di Universitas Gajah Mada, saat itu yang menjadi panitia acara dari Teater Gajah Mada. Selama berada disana saya menyempatkan diri menikmati suasana kota Yogyakarta saat itu, mencoba mengamati budaya dan kesenian disana. Dari pengamatan itu, nampak jelas perbedaan perkembangan kesenian disana, saya sempat berdiskusi dengan kawan-kawan seniman yogya, dari hasil diskusi itu saya menemukan perbedaan ‘iklim berkesenian’ yang mereka ciptakan dengan kami dari daerah.
Bertolak dari kalimat ‘seni untuk masyarakat’ memang benar adanya, para seniman Yogyakarta saling bekerjasama dalam membesarkan kesenian, sehingga masyarakat yogya betul-betul menikmati kesenian yang disajikan para pekerja seni. Dalam mencipta seni tidak ada sekat-sekat antara kelompok satu dengan yang lainnya, mereka lebur dalam satu ikatan, seniman Yogyakarta.  
Hal itu tidak terlihat di daerah saya, Maros, salah satu kabupaten terdekat dengan kota Makassar. Saya melihat bahwa selama ini kami mencipta seni hanya semata-mata membesarkan kelompok masing-masing (sanggar) tanpa pernah berfikir bahwa seni merupakan milik bersama, milik masyarakat bukan milik para seniman dan mahasiswa (mudah-mudahan saya keliru dalam hal ini).
Sehingga apa yang menjadi perjuangan selama ini, sulit mendapatkan ending yang bagus. Pemerintah yang diharapkan agar bisa memperhatikan kesenian bahkan  bisa menempatkan kesenian sebagai daya tarik parawisata Kab. Maros tidak akan pernah terjadi. Ini karena kekeliruan berfikir dalam menghidupkan kesenian di Kab. Maros, kami cuman sibuk membesarkan kelompok masing-masing.
Harapan saya mudah-mudahan melalui tulisan ini kita dapat memetik pelajaran, tentang bagaimana seharusnya kita mencipta seni, sudah saatnya kita merubah pola pikir dalam penciptaan  seni. Saya juga berharap agar saudara-saudara di Sanggar Seni Budaya Lontara dapat mengambil pelajaran, apa yang menjadi kegelisahan kita selama ini dan bisa terobati.
Langkah yang kita lakukan selama ini dalam mencipta seni mudah-mudahan bukan hanya untuk memperjuangkan sanggar kita sendiri, melainkan memperjuangkan nasib kesenian di Kab. Maros. Agar kesenian di kota Maros dapat menjadi kuat hingga mampu mendesak Pemerintah untuk memperhatikan kesenian seperti yang kita perjuangkan bersama-sama.
Diakhir tulisan ini sa meminta maaf  apabila dalam penyampaian kali ini ada kata atau kalimat yang tidak berkenan di hati para pembaca, tulisan ini semata-mata hanya untuk mengajak kepada saudara-saudara insan seni untuk bersama berjuang membesarkan kesenian ri butta marusu’.
////>>> Posting. Olank

Sabtu, 18 Februari 2012

Catatan sebuah roda proses

Sebuah "proses" merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan yang telah disepakati bersama dalam sebuah ikatan kebersamaan.
Dalam sebuah "proses" itulah seseorang dapat menjadi jiwa-jiwa yang kuat, jiwa yang dapat bertahan dalam menjalani sebuah cobaan hidup. Bukankah setiap langkah pasti ada konflik? dan konflik itulah cinta sejati yang sesungguhnya (tergantung kaca mata berfikir tiap orang).
Mengutip dari perkataan teman "kita adalah budak-budak dari sebuah proses" mungkin ada benarnya juga, karena kami terlahir dari sebuah proses yang panjang demi ingin menjadi jiwa-jiwa yang kuat, jiwa yang tidak lelah akan sebuah "proses".
Karena "proses" itulah komunitas kami terlahir sebagai wadah yang menawarkan sebuah konsep berkesenian yang dapat kami tawarkan kepada saudara-saudari kami yang ingin menjadi insan-insan seni yang memiliki jiwa dan mental kuat yang tentunya kesemua itu dapat tercapai melalui proses panjang.
Kami yakin tidak akan merasa merasa kecil hati menjadi "budak proses" demi sebuah harapan dan cita-cita,sebuah komitmen yang telah tersepakati. Karena kami yakin kelak akan menjadi "tuan" dari sebuah proses itu sendiri.....////>>> posting. Olank

Sabtu, 11 Februari 2012

Sabtu 28 januari 2012 sebagai pembayaran tunai dari proses yang kita jalani selama kurang lebih dua bulan lamanya. yah...sebuah proses awal yang sangat meletihkan dan cukup membuat tim produksi "Sang Mandor" bersahabat peluh dan letih setiap saat.
Aku kira apa yang telah kita lakukan selama ini merupakan pijakan awal sebuah sejarah perteateran ri butta marusu butta salewangang.
yah.... dimalam itu kita bersepakat memecah kebisuan yang selama ini menjadi mimpi mematikan sebuah optimisme yang selalu saja menghantui para pekerja seni.
Sebuah pesan dari ku untuk tim produksi sang mandor, jadikanlah langkah ini sebagai momentum awal untuk menggapai cita-cita yang kita sepakati diawal lahirnya Sanggar Seni Lontara.
Amin...//>>>post olank

Jumat, 10 Februari 2012

Ku ucapkan selamat dan sukses bagi segenap pengurus serta aktor dan aktris produksi Sang Mandor (naskah teater karya Rahman Arge, yang di pentaskan 28 januari 2012,..................!)
semoga ini bukan puncak dari sebuah kesuksesan melainkan sebuah percikan untuk memulai sesuatu yang besar. harapan untuk membangunkan jiwa kesenian kabupaten maros semoga menjadi titik fokus yang diemban para bahu jiwa-jiwa yang senantiasa mencari estetika yang sesungguhnya,.....//>>>post,Langit